Tampilkan postingan dengan label Biografi tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Januari 2011

abdullah ibn saba'

Diposting oleh Zieza Cubby di 05.34 0 komentar

ABDULLAH IBN SABA’
Pendusta Muslim dan Pendiri Syi’ah
Berbicara tentang tokoh ini adalah aktor intelektual rentetan kejadian fitnah antara enam bulan terakhir khalifah utsman bin affan sampai rentang terakhir khalifah ali bin abi thalib. Abdullah ibn saba’ Alhimyari atau disebut juga ibnu sauda’adalah seorang yahudi dari negeri yaman(shan’a) yang telah masuk islam melalui tangan ali yang bermukim di al-madain,dan menampakkan keislamannya pada masa usman bin affan. menurut syeikhul islam ibnu taimiyah bahwa asal usul faham ini dari munafiqin dan zanadiqoh (yaitu orang-orang yang menampakkan keislamannya dan menyembunyikan kekafiran) dan dia juga pencetus pertama bagi faham syi’ah, yang begitu ekstrim menampakkan kemuliaannya kepada ali r.a. dengan satu slogan bahwa ali yang berhak menjadi khalifah, dan ia adalah orang yang ma’sum (terjaga dari segala dosa)
Ketika ibnu saba’ menyatakan keislamannya dan mulai menampakkan sikap amar ma’ruf nahi munkar, serta  menarik simpati banyak orang, maka ia mulai mendekatkan diri dan menampakkan kecintaannya pada ali, setelah kedudukannya cukup stabil, ia mulai menciptakan kebohongan pada diri ali. Salah seorang tokoh besar dari golongan tabi’in yang wafat pada tahun 103H, yaitu asy-sya’bi berkata: yang pertama kali melahirkan kebohongan adalah abdullah ibn saba’, dia telah berdusta atas nama Allah dan rosulnya.
Berbagai macam fitnah ia timbulkan, ia terlibat pembunuhuan khalifah usman bin affan, juga terlibat pengobaran fitnah pada perang jamal antara ali dan aisyah, dan perang siffin antara mu’awiyah dan ali. Kemudian pada pemerintahan ali ia kembali membuat ulah. Dengan ulahnya itulah para sabba’iyah harus rela dibakar oleh seorang yang mereka anggap sebagai tuhan.
Ia mulai merekayasa fikroh wasiat nabi tentang kababilitas ali bin abi thalib sebagai pemimpin, maka siapapun saat ini berarti telah merampas kepemimpian dari pemiliknya yang sah, dengan cara ini dia bisa membunuh karakter usman. Dari sini dia mulai mengkampanyekan pemikirannya dengan mengunjungi sentral kota-kota pada masa itu adalah mesir,syam,kufah,dan basrah. Ia bahkan bisa memobilisasikan pengikutnya dengan membentuk gerakan bawah tanah atau disebut dengan sabaiyah yang pada akhirnya nanti berhasil menggulingkan pemerintahan usman.
Disebutkan dalam sejarah bahwa kampanye abdullah bin saba’ tidak berhenti sampai disitu detik terakhir perang unta yang hampir berakhir dimeja diplomasi antara faksi ali dan triumvrat talhah, zubair dan aisyah digagalkan dengan provokasi abdullah bin saba’ dan kronisnya yang akhirnya menyebabkan pertumpahan darah antara kaum muslim sendiri hanya setelah 28tahun rosulullah wafat.
EKSISTENSI ABDULLAH IBN SABA

Setelah menelaah biografi dan perannya, rasanya patut kita teliti ulang eksistensi tokoh kita yang satu ini, bukan karena apa, tapi karena dianggap peran itu tidak semestinya yang dilakoni Abdullah, benarkah realita itu memang benar-benar terjadi di masa lampau, kalau benar sudah selayaknya kita memberikan gelar tokoh kita sebagai guru besar bidang Provokasi Massa.

Tapi jika tidak, maka cerita yang selama ini kita baca, kita publikasikan dan kita diskusikan tentang Ibnu Saba sama saja dengan cerita-cerita masa silam yang terkadang lebih banyak bumbu dibanding isi.

Dalam banyak referensi hadits Syiah dan Sunah disebut juga bahwa Abdullah bin Saba inilah pencetus penuhanan Aly bin Abi Thalib hingga akhirnya ia tewas dibakar Imam Aly. Untuk mengetahui referensi itu bisa ditelaah dalam kitab Alkafi Kulaini, Ma'rifatun Naqilin Kisyi (lebih popular dengan nama Rijalul Kisyi), Biharul Anwar Majlisi, riwayat sunahnya bisa dicheck dalam Musnad Ahmad, dalam Shohih Bukhory diriwayatkan bahwa Imam Aly menghukum bakar kaum murtad dan zindiq tanpa menyebut nama Abdullah bin Saba.

Ada satu ironi pada realita penuhanan Aly jika saja memang kisah ini valid, Jazirah Arab dengan segala kejahiliannya sebelum Islam tidak pernah taraf kejahilyahan mereka sampai pada taraf penuhanan terhadap sesama manusia (sesuai dengan sejarah yang kita baca), mereka memang karena kebodohannya mengubur hidup-hidup anak perempuan, mereka menyembah berhala, memakan bangkai, membudayakan mabuk dan judi tapi untuk menuhankan sesama manusia kita belum menemukannya dalam sejarah.

Mungkin saja kita menemukan fenomena menuhankan manusia pada masyarakat Egypt kuno pada era Firaun, Nasroni Romawi yang sepakat menuhankan Yesus, Yahudi yang mengatakan bahwa Uzair adalah anak tuhan, bangsa Jepang dan China yang menganggap kaisar adalah anak tuhan, bangsa India dan faham Kejawen yang terkadang mendewa-dewakan seseorang yang dianggap titisan Wishnu. Tapi sejujurnya saya belum menemukan bahwa arab jahiliyah pernah menyembah manusia.
Jika arab jahiliyah saja tidak ada penuhanan manusia (katakan saja demikian sampai kita menemukan dalam sejarah bahwa fenomena ini pernah ada di zaman jahilliyah) kecil sekali kemungkinan fenomena ini terjadi  di era Imam Aly setelah Islam tersebar hampir ke seluruh pelosok arab.

ibnu al-qayyim al-jauzy

Diposting oleh Zieza Cubby di 04.56 0 komentar

IBNU AL-QAYYIM AL-JAUZY
Ibnu Al-Qayyim atau nama asalnya adalah Shams al-Din Abu 'Abd Allah Muhammad bin Abu Bakr bin Sa'ad, lahir dalam lingkungan rumah yang penuh dengan keilmuan dan intlektualitas didaerah Zur’-Horan*-Dimakus pada tanggal, 7 shafar 691 H, yang bertepatan pada tanggal 05 januari 1292 M. Pada saat hilafah Abbasiah mengalami kemunduran[1] Beliau merupakan sosok intelektual yang sangat vokal, gamblang penjelasannya, sangat luas pengetahuannya yang meliputi bidang hukum Islam (fiqih), tafsir, hadits, ilmu `alat (nahwu), dan ilmu ushul fiqih. Beliau juga pernah menjadi ketua Madrasah Al-Jauziyyah, dan sudah lama menjadi staf pengajar di Madrasah Shadriyyah. Beliau menunaikan ibada haji beberapa kali dan tinggal di sekitar Kota Mekkah. Masyarakat Mekkah banyak membicarakan tentang kekhusyu`an beliau dalam menjalankan ibadah kepada Allah. beliau sangat sering melakukan thawaf yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh kebanyakan orang.dan ayahnya merupakan guru pertama yang mengajar Ibn Qayyim tentang ilmu-ilmu asas Islam termasuk ilmu al-fara'id.
Ibnu Al-Qoyyim adalah salah satu murid Ibnu Taimiah yang paling terkenal. Dalam berbagai karya yang mengangkat tentang pemikiran Ibnu Taimiah seringkali nama beliau di sandingkan dengan nama gurunya itu begitu juga sebaliknya dalam setiap karya yang beliau tulis tidak lupa untuk mencantumkan nama gurunya sekaligus pemikirannya. Dan beliau juga seorang murid yang terbilang cukup lama bersanding dan Menimba ilmu kepada Ibnu Taimiah[2]. Ini senada dengan ungkapkan Ibnu Katsir yang dikutip oleh Dr. Mustafa Hilmi sendiri dalam karya beliau Al-bidâyah wa al-nihâyah bahwa beliau berkata: “ketika Ibnu Taimiah kembali dari negeri Mesir pada tahun 712 H. Beliau (Ibnu Al-Qayyim) selalu mendampingi gurunya dan menimba banyak ilmu sampai akhir hayat gurunya”.[3]
Bukanlah suatu hal yang aneh apabila Ibn Al-Qayyim menjelma sebagai sosok intelektual yang handal. Beliau dibesarkan dalam iklim yang sangat subur, ketika banyak ulama alim yang hidup pada waktu itu. Sejak dini beliau benar-benar sudah memberikan dirinya untuk menekuni dunia pendidikan baik di bidang fikih, bahasa, ilmu kalam dan tasawuf. Begitu juga dengan perhatian beliau dalam sejarah kenabian dan sejarah umum.[4] Ilmu-ilmu sosial yang beliau pelajari juga cukup memadai. Para pembaca karya-karya beliau akan dibuat tercengang mengetahui bahwa beliau juga sangat mahir dalam bidang sastra, ilmu nahwu dan kemahiran olah sya`ir. Beliau sangat menguasai berbagai keahlian dan pengetahuan yang sedang melejit pada zamannya. Beliau adalah seorang kutu buku dan mempunyai koleksi buku yang tidak terhitung jumlahnya. Sampai-sampai setelah beliau wafat, anak keturunannya menjual buku-buku koleksi tersebut dengan membutuhkan waktu beberapa tahun. Itu belum termasuk yang sengaja dijadikan koleksi pribadi bagi mereka sendiri.
Adapun gurunya sendiri (Ibnu Taimiah 661-728 H.) merupakan seorang yang selalu mempertahankan aliran-aliran/paham salaf. Beliau sering terjun membahas tentang pergulatan ilmu kalam serta membantah para filsuf lalu mebongkar, memperlihatkan ketidak pastian al-tasauf al-falsafi menurut pandangan Islam, dan mempertahankan al-thariqoh al-muhammadiyah al-imaniyyah karena ia merupakan jalan dan cara yang benar dalam Islam, walau dalam sebagian kisah perjalanan akidah, beliau pernah terjebak dalam faham Al-Mujassimah sebagaimana yang dikatakan oleh KH. Sirajuddin Abbas dalam karyanya I’tiqad Ahlussunnah wa al jamaah” yang pada kenyataannya paham ini dianut oleh Wahabi kemudian mereka menisbatkannya kepada syaikhul islam Ibnu Taimiah untuk mencari lisensi kebenaran aqidah mereka’. Namun Ibnu Hajar Al-Asqolani (pengarang Fathu Al-Baari syarah Shahih Al-Buhari,773-852 H) dalam kitabnya Al-Dhurar Al-Kaminah fi a’yan Al-Miaah Al-Saminah telah memberi kesaksian bahwa Ibnu Taimiah telah meminta maaf kepada ulama dan bertaubat dari faham sesatnya tersebut. Kenyataan bertaubatnya Ibnu taimiah dari aqidah sesat tersebut juga telah dinyatakan oleh seorang ulama’ pada zamannya yaitu syihab Al-Dien Al-Nuwairy wafat 733 H.[5]
 Ibnu Al-Qoyyim kemudian meneruskan paham dan pemikiran gurunya ini dalam sebagian besar permasalahan yang berhubungan dengan ilmu kalam dan fiqih termasuk paham al-thariqoh al-muhammadiyah al-imaniyyah yang telah beliau terima dari gurunya yang kemudian beliau tetap mempertahankan juga dengan berbagai macam cara.[6]
Ibnu al-qayyim dikenal dengan sosok yang gemar dan progresis dalam menimba ilmu, koleksi bukunya mencapai seperpuluh dari apa yang belum terkoleksi oleh lainnya, termasuk buku-buku  koleksi dari salaf dan khalf, maka tidak asing lagi jika mendapati tulisanya dalam setiap objek kajian sebagai pemegang konsesi terhadap istila-istilah tasauf. Beliau juga seorang yang menangani sebuah perpustakaan yang besar dan selalu mengkaji buku-buku tersebut siang dan malam, dan sudah menjadi sebuah kepastian sebalum beliau menulis karya tulis beliau akan mengkaji dan mempelajari terlebih dahulu apa yang akan beliau tulis. Semua karyanya lahir dari sebuah kesungguhan yang sudah nyata kebenarannya.
 Dan beliau juga adalah sosok yang sangat bekarakter dan berkepribadian bagus, khususnya dalam aspek ibadah sebab beliau mendapatkan kenikmatan hakiki dalam beribadah sampai-sampai Ibnu Katsir melukiskan tentang beliau: “ibnu Al-Qoyyim mempunyai ciri has tersendiri dalam shalatnya yaitu memperpanjangnya dan dalam setiap ruku’ dan shalatnya beliau senantiasa mengulur-ngulurnya, sehingga sebagian dari sahabat-sahabatnya banyak memprotes dan mencelanya, namun beliau tidak bergeming sedikitpun dari apa yang telah beliau lakukan”, pada zaman kami saya belum menemukan di dunia ini seseorang yang banyak ibadahnya dari pada Al-Jauzi lanjut ibnu katsir.


[1] . Hariz Al-Zar’i, Hâdi Al-arawâh Ilâ Bilâdi Al-aflâh
*Jarak dari Horan ke Dimaskus mencapai 55 Mil ke arah selatan timur
[2]. Mustafa Helmi, Al-Tasauf wa al- Ittijâh Al-salafi fi al-ashri Al-hadits, Dâr al-da’wah, al-Iskadariah, hal. 75
[3] . ibid. hal.75
[5] . Berandamadina.wordpress.com/2010/03/24
[6] . Mustafa Helmi, Al-Tasauf wa al- Ittijâh Al-salafi fi al-ashri Al-hadits. hal.75-76

Minggu, 02 Januari 2011

al-Allusi....pengarang tafsir ruh al-ma'ani

Diposting oleh Zieza Cubby di 04.19 0 komentar
TOKOH
Al-ALLUSI, Pengarang kitab tafsir “Ruh al Ma’ani Fi Tafsir al Qur’an al Azim wa al Sab’ al Masani”.
Nama lengkapnya adalah Abu al Sana Shihab al Din al Sayyid Mahmud al Alusi al Baghdadi. Nama al Alusi diambil dari nama suatu tempat di tepi barat Sungai Eufrat yang terletak di antarakota Abu Kamal dan kota Ramadi, Irak. Beliau lahir dari keluarga besar yang terpelajar di Baghdad pada tahun 1217 H / 1802 M.
Nisbat al-Alūsi merujuk kepada suatu daerah didekat sungai Eufrat antara Bagdad dan Syam (Syiria). Disitulah keluarga dan kakeknya bertempat tinggal. Itulah sebabnya beliau dikenal dengan sebutan Al-Alūsi. Pada usia mudanya beliau dibimbing oleh orang tuanya sendiri yaitu Syaikh al-Suwaidi. Disamping itu, al-Alūsi juga berguru kepada Syaikh al-Naqsa­bandi.
Dari yang terakhir ini beliau belajar tasawuf. Maka wajar jika dalam sebagian uraian tafsirnya, beliau memasukkan perspektif sufistik sebagai upaya untuk menguak makna batin (esoteric).
Al-Alūsi dikenal sangat kuat hafalannya (dābit) dan brilian otaknya. Beliau mulai aktif dalam belajar dan menulis sejak usia 13 tahun. Seolah beliau tidak ada perasaan malas dan bosan untuk belajar. Berikut ini pernyataan al-Alūsi, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Akrom : "Aku tidak pernah tidur di malam hari untuk memurnikan ilmu-ilmu yang tercemar oleh kepen­tingan-kepentingan kekayaan dan wanita-wanita cantik".
Al Alusi pernah menjabat sebagai Mufti Baghdad. Ia memiliki pengetahuan yang luas baik dalam bidang ‘aqli maupun naqli. Ia juga seorang mahaguru, pemikir dan ahli berpolemik. Sejak usia muda ia sudah mulai mengarang. Namun hanya sedikit karyanya yang diwariskan kepada generasi sekarang, diantaranya adalah Tafsir Ruh al Ma’ani Fi Tafsir al Qur’an al Azim wa al Sab’ al Masani (Semangat makna dalam Tafsir al Qur’an dan al Sab’ al Masani).
Sejak lama al Alusi ingin menuangkan buah pikirannya ke dalam sebuah kitab. Namun karena merasa belum mampu dan kurangnya kesempatan, keinginan tersebut belum dapat terwujud. Hingga pada suatu Malam Jum’at di bulan Rajab tahun 1252 H.  beliau bermimpi diperintah Allah SWT untuk melipat langit dan bumi. Kemudian (masih dalam keadaan mimpi) beliau mengangkat satu tangan ke arah langit dan satu tangan ke tempat mata air, kemudian beliau terbangun. Setelah dicari, ternyata tafsir mimpi beliau adalah bahwa beliau diperintah mengarang sebuah kitab tafsir. Maka mulailah beliau mengarang pada tanggal 16 Sya’ban 1252 H, pada waktu beliau berusia 34 tahun pada zaman pemerintahan Sultan Mahmud Khan bin Sulthan Abdul Hamid Khan.
Setelah kitab ini selesai disusun, beliau mendapat kesulitan dalam memberikan nama yang sesuai. Akhirnya beliau melaporkan hal ini kepada Perdana Menteri Ali Ridho Pasha. Secara sepontan beliau memberinya nama Tafsir Ruh al Ma’ani Fi Tafsir al Qur’an al Azim wa al Sab’ al Masani. Setelah beliau meninggal, kitab ini disempurnakan oleh putranya, Sayyid Nu’man al Alusi.
Dalam bidang fiqih beliau bermadzhab Shafi’i, namun dalam banyak hal beliau mengikuti mazhab Hanafi. Bahkan beliau juga memiliki kecenderungan berijtihad. Sedangkan dalam aqidah mengikuti aqidah sunni.
Al-Alūsi sangat produktif. Tidaklah berlebihan jika beliau dijuluki dengan Hujjatul Udabā dan sebagai rujukan bagi Para ulama pada zamannya. Kealiman beliau dapat terlihat dari karya-karyanya antara lain : Hāsyiyah 'alā al­Qatr, Syarh al-Sālim, al-Ajwibah al-'Irāqiyyah ’an As'ilah al-Lahōriyyah, al-Ajwibah al-Irāqiyyah alā As'ilah al-­Irāniyyah, Durrah al-Gawâs fī Awhâm al-Khawāss, al-Nafakhāt al-­Qudsiyyah fī Adab al-Bahs Ruh al-Ma'ani fī Tafsir al-Qur'an al-'A.zîm wa al-Sab'i al-Masāni dan lain-lain. Diantara karya-karya tersebut, tampaknya karya yang paling populer adalah yang disebut terakhir yang kemudian dikenal dengan Tafsir al-Alūsi atau Ruh al-Ma'āni. Namun rupanya al-Alusi tidak berumur panjang. Pada tanggal 25 Zulhijjah 1270 H. beliau wafat dan dimakamkan di dekat kuburan Syaikh Ma'rūf al-Karkhî, salah seorang tokoh Sufi yang sangat terkenal di kota Kurkh. (dari berbagai sumber)


Oleh : Siti Nur Azizah
Tampilkan postingan dengan label Biografi tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi tokoh. Tampilkan semua postingan

ABDULLAH IBN SABA’
Pendusta Muslim dan Pendiri Syi’ah
Berbicara tentang tokoh ini adalah aktor intelektual rentetan kejadian fitnah antara enam bulan terakhir khalifah utsman bin affan sampai rentang terakhir khalifah ali bin abi thalib. Abdullah ibn saba’ Alhimyari atau disebut juga ibnu sauda’adalah seorang yahudi dari negeri yaman(shan’a) yang telah masuk islam melalui tangan ali yang bermukim di al-madain,dan menampakkan keislamannya pada masa usman bin affan. menurut syeikhul islam ibnu taimiyah bahwa asal usul faham ini dari munafiqin dan zanadiqoh (yaitu orang-orang yang menampakkan keislamannya dan menyembunyikan kekafiran) dan dia juga pencetus pertama bagi faham syi’ah, yang begitu ekstrim menampakkan kemuliaannya kepada ali r.a. dengan satu slogan bahwa ali yang berhak menjadi khalifah, dan ia adalah orang yang ma’sum (terjaga dari segala dosa)
Ketika ibnu saba’ menyatakan keislamannya dan mulai menampakkan sikap amar ma’ruf nahi munkar, serta  menarik simpati banyak orang, maka ia mulai mendekatkan diri dan menampakkan kecintaannya pada ali, setelah kedudukannya cukup stabil, ia mulai menciptakan kebohongan pada diri ali. Salah seorang tokoh besar dari golongan tabi’in yang wafat pada tahun 103H, yaitu asy-sya’bi berkata: yang pertama kali melahirkan kebohongan adalah abdullah ibn saba’, dia telah berdusta atas nama Allah dan rosulnya.
Berbagai macam fitnah ia timbulkan, ia terlibat pembunuhuan khalifah usman bin affan, juga terlibat pengobaran fitnah pada perang jamal antara ali dan aisyah, dan perang siffin antara mu’awiyah dan ali. Kemudian pada pemerintahan ali ia kembali membuat ulah. Dengan ulahnya itulah para sabba’iyah harus rela dibakar oleh seorang yang mereka anggap sebagai tuhan.
Ia mulai merekayasa fikroh wasiat nabi tentang kababilitas ali bin abi thalib sebagai pemimpin, maka siapapun saat ini berarti telah merampas kepemimpian dari pemiliknya yang sah, dengan cara ini dia bisa membunuh karakter usman. Dari sini dia mulai mengkampanyekan pemikirannya dengan mengunjungi sentral kota-kota pada masa itu adalah mesir,syam,kufah,dan basrah. Ia bahkan bisa memobilisasikan pengikutnya dengan membentuk gerakan bawah tanah atau disebut dengan sabaiyah yang pada akhirnya nanti berhasil menggulingkan pemerintahan usman.
Disebutkan dalam sejarah bahwa kampanye abdullah bin saba’ tidak berhenti sampai disitu detik terakhir perang unta yang hampir berakhir dimeja diplomasi antara faksi ali dan triumvrat talhah, zubair dan aisyah digagalkan dengan provokasi abdullah bin saba’ dan kronisnya yang akhirnya menyebabkan pertumpahan darah antara kaum muslim sendiri hanya setelah 28tahun rosulullah wafat.
EKSISTENSI ABDULLAH IBN SABA

Setelah menelaah biografi dan perannya, rasanya patut kita teliti ulang eksistensi tokoh kita yang satu ini, bukan karena apa, tapi karena dianggap peran itu tidak semestinya yang dilakoni Abdullah, benarkah realita itu memang benar-benar terjadi di masa lampau, kalau benar sudah selayaknya kita memberikan gelar tokoh kita sebagai guru besar bidang Provokasi Massa.

Tapi jika tidak, maka cerita yang selama ini kita baca, kita publikasikan dan kita diskusikan tentang Ibnu Saba sama saja dengan cerita-cerita masa silam yang terkadang lebih banyak bumbu dibanding isi.

Dalam banyak referensi hadits Syiah dan Sunah disebut juga bahwa Abdullah bin Saba inilah pencetus penuhanan Aly bin Abi Thalib hingga akhirnya ia tewas dibakar Imam Aly. Untuk mengetahui referensi itu bisa ditelaah dalam kitab Alkafi Kulaini, Ma'rifatun Naqilin Kisyi (lebih popular dengan nama Rijalul Kisyi), Biharul Anwar Majlisi, riwayat sunahnya bisa dicheck dalam Musnad Ahmad, dalam Shohih Bukhory diriwayatkan bahwa Imam Aly menghukum bakar kaum murtad dan zindiq tanpa menyebut nama Abdullah bin Saba.

Ada satu ironi pada realita penuhanan Aly jika saja memang kisah ini valid, Jazirah Arab dengan segala kejahiliannya sebelum Islam tidak pernah taraf kejahilyahan mereka sampai pada taraf penuhanan terhadap sesama manusia (sesuai dengan sejarah yang kita baca), mereka memang karena kebodohannya mengubur hidup-hidup anak perempuan, mereka menyembah berhala, memakan bangkai, membudayakan mabuk dan judi tapi untuk menuhankan sesama manusia kita belum menemukannya dalam sejarah.

Mungkin saja kita menemukan fenomena menuhankan manusia pada masyarakat Egypt kuno pada era Firaun, Nasroni Romawi yang sepakat menuhankan Yesus, Yahudi yang mengatakan bahwa Uzair adalah anak tuhan, bangsa Jepang dan China yang menganggap kaisar adalah anak tuhan, bangsa India dan faham Kejawen yang terkadang mendewa-dewakan seseorang yang dianggap titisan Wishnu. Tapi sejujurnya saya belum menemukan bahwa arab jahiliyah pernah menyembah manusia.
Jika arab jahiliyah saja tidak ada penuhanan manusia (katakan saja demikian sampai kita menemukan dalam sejarah bahwa fenomena ini pernah ada di zaman jahilliyah) kecil sekali kemungkinan fenomena ini terjadi  di era Imam Aly setelah Islam tersebar hampir ke seluruh pelosok arab.


IBNU AL-QAYYIM AL-JAUZY
Ibnu Al-Qayyim atau nama asalnya adalah Shams al-Din Abu 'Abd Allah Muhammad bin Abu Bakr bin Sa'ad, lahir dalam lingkungan rumah yang penuh dengan keilmuan dan intlektualitas didaerah Zur’-Horan*-Dimakus pada tanggal, 7 shafar 691 H, yang bertepatan pada tanggal 05 januari 1292 M. Pada saat hilafah Abbasiah mengalami kemunduran[1] Beliau merupakan sosok intelektual yang sangat vokal, gamblang penjelasannya, sangat luas pengetahuannya yang meliputi bidang hukum Islam (fiqih), tafsir, hadits, ilmu `alat (nahwu), dan ilmu ushul fiqih. Beliau juga pernah menjadi ketua Madrasah Al-Jauziyyah, dan sudah lama menjadi staf pengajar di Madrasah Shadriyyah. Beliau menunaikan ibada haji beberapa kali dan tinggal di sekitar Kota Mekkah. Masyarakat Mekkah banyak membicarakan tentang kekhusyu`an beliau dalam menjalankan ibadah kepada Allah. beliau sangat sering melakukan thawaf yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh kebanyakan orang.dan ayahnya merupakan guru pertama yang mengajar Ibn Qayyim tentang ilmu-ilmu asas Islam termasuk ilmu al-fara'id.
Ibnu Al-Qoyyim adalah salah satu murid Ibnu Taimiah yang paling terkenal. Dalam berbagai karya yang mengangkat tentang pemikiran Ibnu Taimiah seringkali nama beliau di sandingkan dengan nama gurunya itu begitu juga sebaliknya dalam setiap karya yang beliau tulis tidak lupa untuk mencantumkan nama gurunya sekaligus pemikirannya. Dan beliau juga seorang murid yang terbilang cukup lama bersanding dan Menimba ilmu kepada Ibnu Taimiah[2]. Ini senada dengan ungkapkan Ibnu Katsir yang dikutip oleh Dr. Mustafa Hilmi sendiri dalam karya beliau Al-bidâyah wa al-nihâyah bahwa beliau berkata: “ketika Ibnu Taimiah kembali dari negeri Mesir pada tahun 712 H. Beliau (Ibnu Al-Qayyim) selalu mendampingi gurunya dan menimba banyak ilmu sampai akhir hayat gurunya”.[3]
Bukanlah suatu hal yang aneh apabila Ibn Al-Qayyim menjelma sebagai sosok intelektual yang handal. Beliau dibesarkan dalam iklim yang sangat subur, ketika banyak ulama alim yang hidup pada waktu itu. Sejak dini beliau benar-benar sudah memberikan dirinya untuk menekuni dunia pendidikan baik di bidang fikih, bahasa, ilmu kalam dan tasawuf. Begitu juga dengan perhatian beliau dalam sejarah kenabian dan sejarah umum.[4] Ilmu-ilmu sosial yang beliau pelajari juga cukup memadai. Para pembaca karya-karya beliau akan dibuat tercengang mengetahui bahwa beliau juga sangat mahir dalam bidang sastra, ilmu nahwu dan kemahiran olah sya`ir. Beliau sangat menguasai berbagai keahlian dan pengetahuan yang sedang melejit pada zamannya. Beliau adalah seorang kutu buku dan mempunyai koleksi buku yang tidak terhitung jumlahnya. Sampai-sampai setelah beliau wafat, anak keturunannya menjual buku-buku koleksi tersebut dengan membutuhkan waktu beberapa tahun. Itu belum termasuk yang sengaja dijadikan koleksi pribadi bagi mereka sendiri.
Adapun gurunya sendiri (Ibnu Taimiah 661-728 H.) merupakan seorang yang selalu mempertahankan aliran-aliran/paham salaf. Beliau sering terjun membahas tentang pergulatan ilmu kalam serta membantah para filsuf lalu mebongkar, memperlihatkan ketidak pastian al-tasauf al-falsafi menurut pandangan Islam, dan mempertahankan al-thariqoh al-muhammadiyah al-imaniyyah karena ia merupakan jalan dan cara yang benar dalam Islam, walau dalam sebagian kisah perjalanan akidah, beliau pernah terjebak dalam faham Al-Mujassimah sebagaimana yang dikatakan oleh KH. Sirajuddin Abbas dalam karyanya I’tiqad Ahlussunnah wa al jamaah” yang pada kenyataannya paham ini dianut oleh Wahabi kemudian mereka menisbatkannya kepada syaikhul islam Ibnu Taimiah untuk mencari lisensi kebenaran aqidah mereka’. Namun Ibnu Hajar Al-Asqolani (pengarang Fathu Al-Baari syarah Shahih Al-Buhari,773-852 H) dalam kitabnya Al-Dhurar Al-Kaminah fi a’yan Al-Miaah Al-Saminah telah memberi kesaksian bahwa Ibnu Taimiah telah meminta maaf kepada ulama dan bertaubat dari faham sesatnya tersebut. Kenyataan bertaubatnya Ibnu taimiah dari aqidah sesat tersebut juga telah dinyatakan oleh seorang ulama’ pada zamannya yaitu syihab Al-Dien Al-Nuwairy wafat 733 H.[5]
 Ibnu Al-Qoyyim kemudian meneruskan paham dan pemikiran gurunya ini dalam sebagian besar permasalahan yang berhubungan dengan ilmu kalam dan fiqih termasuk paham al-thariqoh al-muhammadiyah al-imaniyyah yang telah beliau terima dari gurunya yang kemudian beliau tetap mempertahankan juga dengan berbagai macam cara.[6]
Ibnu al-qayyim dikenal dengan sosok yang gemar dan progresis dalam menimba ilmu, koleksi bukunya mencapai seperpuluh dari apa yang belum terkoleksi oleh lainnya, termasuk buku-buku  koleksi dari salaf dan khalf, maka tidak asing lagi jika mendapati tulisanya dalam setiap objek kajian sebagai pemegang konsesi terhadap istila-istilah tasauf. Beliau juga seorang yang menangani sebuah perpustakaan yang besar dan selalu mengkaji buku-buku tersebut siang dan malam, dan sudah menjadi sebuah kepastian sebalum beliau menulis karya tulis beliau akan mengkaji dan mempelajari terlebih dahulu apa yang akan beliau tulis. Semua karyanya lahir dari sebuah kesungguhan yang sudah nyata kebenarannya.
 Dan beliau juga adalah sosok yang sangat bekarakter dan berkepribadian bagus, khususnya dalam aspek ibadah sebab beliau mendapatkan kenikmatan hakiki dalam beribadah sampai-sampai Ibnu Katsir melukiskan tentang beliau: “ibnu Al-Qoyyim mempunyai ciri has tersendiri dalam shalatnya yaitu memperpanjangnya dan dalam setiap ruku’ dan shalatnya beliau senantiasa mengulur-ngulurnya, sehingga sebagian dari sahabat-sahabatnya banyak memprotes dan mencelanya, namun beliau tidak bergeming sedikitpun dari apa yang telah beliau lakukan”, pada zaman kami saya belum menemukan di dunia ini seseorang yang banyak ibadahnya dari pada Al-Jauzi lanjut ibnu katsir.


[1] . Hariz Al-Zar’i, Hâdi Al-arawâh Ilâ Bilâdi Al-aflâh
*Jarak dari Horan ke Dimaskus mencapai 55 Mil ke arah selatan timur
[2]. Mustafa Helmi, Al-Tasauf wa al- Ittijâh Al-salafi fi al-ashri Al-hadits, Dâr al-da’wah, al-Iskadariah, hal. 75
[3] . ibid. hal.75
[5] . Berandamadina.wordpress.com/2010/03/24
[6] . Mustafa Helmi, Al-Tasauf wa al- Ittijâh Al-salafi fi al-ashri Al-hadits. hal.75-76
TOKOH
Al-ALLUSI, Pengarang kitab tafsir “Ruh al Ma’ani Fi Tafsir al Qur’an al Azim wa al Sab’ al Masani”.
Nama lengkapnya adalah Abu al Sana Shihab al Din al Sayyid Mahmud al Alusi al Baghdadi. Nama al Alusi diambil dari nama suatu tempat di tepi barat Sungai Eufrat yang terletak di antarakota Abu Kamal dan kota Ramadi, Irak. Beliau lahir dari keluarga besar yang terpelajar di Baghdad pada tahun 1217 H / 1802 M.
Nisbat al-Alūsi merujuk kepada suatu daerah didekat sungai Eufrat antara Bagdad dan Syam (Syiria). Disitulah keluarga dan kakeknya bertempat tinggal. Itulah sebabnya beliau dikenal dengan sebutan Al-Alūsi. Pada usia mudanya beliau dibimbing oleh orang tuanya sendiri yaitu Syaikh al-Suwaidi. Disamping itu, al-Alūsi juga berguru kepada Syaikh al-Naqsa­bandi.
Dari yang terakhir ini beliau belajar tasawuf. Maka wajar jika dalam sebagian uraian tafsirnya, beliau memasukkan perspektif sufistik sebagai upaya untuk menguak makna batin (esoteric).
Al-Alūsi dikenal sangat kuat hafalannya (dābit) dan brilian otaknya. Beliau mulai aktif dalam belajar dan menulis sejak usia 13 tahun. Seolah beliau tidak ada perasaan malas dan bosan untuk belajar. Berikut ini pernyataan al-Alūsi, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Akrom : "Aku tidak pernah tidur di malam hari untuk memurnikan ilmu-ilmu yang tercemar oleh kepen­tingan-kepentingan kekayaan dan wanita-wanita cantik".
Al Alusi pernah menjabat sebagai Mufti Baghdad. Ia memiliki pengetahuan yang luas baik dalam bidang ‘aqli maupun naqli. Ia juga seorang mahaguru, pemikir dan ahli berpolemik. Sejak usia muda ia sudah mulai mengarang. Namun hanya sedikit karyanya yang diwariskan kepada generasi sekarang, diantaranya adalah Tafsir Ruh al Ma’ani Fi Tafsir al Qur’an al Azim wa al Sab’ al Masani (Semangat makna dalam Tafsir al Qur’an dan al Sab’ al Masani).
Sejak lama al Alusi ingin menuangkan buah pikirannya ke dalam sebuah kitab. Namun karena merasa belum mampu dan kurangnya kesempatan, keinginan tersebut belum dapat terwujud. Hingga pada suatu Malam Jum’at di bulan Rajab tahun 1252 H.  beliau bermimpi diperintah Allah SWT untuk melipat langit dan bumi. Kemudian (masih dalam keadaan mimpi) beliau mengangkat satu tangan ke arah langit dan satu tangan ke tempat mata air, kemudian beliau terbangun. Setelah dicari, ternyata tafsir mimpi beliau adalah bahwa beliau diperintah mengarang sebuah kitab tafsir. Maka mulailah beliau mengarang pada tanggal 16 Sya’ban 1252 H, pada waktu beliau berusia 34 tahun pada zaman pemerintahan Sultan Mahmud Khan bin Sulthan Abdul Hamid Khan.
Setelah kitab ini selesai disusun, beliau mendapat kesulitan dalam memberikan nama yang sesuai. Akhirnya beliau melaporkan hal ini kepada Perdana Menteri Ali Ridho Pasha. Secara sepontan beliau memberinya nama Tafsir Ruh al Ma’ani Fi Tafsir al Qur’an al Azim wa al Sab’ al Masani. Setelah beliau meninggal, kitab ini disempurnakan oleh putranya, Sayyid Nu’man al Alusi.
Dalam bidang fiqih beliau bermadzhab Shafi’i, namun dalam banyak hal beliau mengikuti mazhab Hanafi. Bahkan beliau juga memiliki kecenderungan berijtihad. Sedangkan dalam aqidah mengikuti aqidah sunni.
Al-Alūsi sangat produktif. Tidaklah berlebihan jika beliau dijuluki dengan Hujjatul Udabā dan sebagai rujukan bagi Para ulama pada zamannya. Kealiman beliau dapat terlihat dari karya-karyanya antara lain : Hāsyiyah 'alā al­Qatr, Syarh al-Sālim, al-Ajwibah al-'Irāqiyyah ’an As'ilah al-Lahōriyyah, al-Ajwibah al-Irāqiyyah alā As'ilah al-­Irāniyyah, Durrah al-Gawâs fī Awhâm al-Khawāss, al-Nafakhāt al-­Qudsiyyah fī Adab al-Bahs Ruh al-Ma'ani fī Tafsir al-Qur'an al-'A.zîm wa al-Sab'i al-Masāni dan lain-lain. Diantara karya-karya tersebut, tampaknya karya yang paling populer adalah yang disebut terakhir yang kemudian dikenal dengan Tafsir al-Alūsi atau Ruh al-Ma'āni. Namun rupanya al-Alusi tidak berumur panjang. Pada tanggal 25 Zulhijjah 1270 H. beliau wafat dan dimakamkan di dekat kuburan Syaikh Ma'rūf al-Karkhî, salah seorang tokoh Sufi yang sangat terkenal di kota Kurkh. (dari berbagai sumber)


Oleh : Siti Nur Azizah

Translate

 

SANG BINTANG CUBBY Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal